Mati Konyol Ala Jimi (Jihadis Milenial)

berita terbaru nu kita
sumber gambar ilustrasi : https://karyakarsa.com/ajiprasetyo/cara-sederhana-memahami-teroris
Selasa, 06 April 2021 - 21:11 WIB | Dilihat: 431

NUKITA.ID, MALANG – KONSTRUKSI berpikir kita pasti sama. Siapa identitas pelaku teror? Apa tujuannya? Kenapa negara tak bisa mencegah? Pertanyaan itu lahir di benak saya ketika Bom Bali I meledak, 12 Oktober 2002, saya adalah mahasiswa semester awal. 

Tujuh tahun kemudian, pada Agustus 2009 saya dikirim ke negeri Jiran. Dalam tugas investigasi di tubuh organisasi teroris Jamaah Islamiyah (JI) Mantiqi Ula (Malaysia) dan Mantiqi Tsani (Indonesia bagian Barat) saya melanjutkan riset lapangan di berbagai kota di Asia Tenggara. Puluhan tatap muka dengan buronan terorisme di kamp-kamp rahasia, dan berbagai metode komunikasi tatap muka telah saya tempuh selama berbulan-bulan dengan keselamatan sebagai taruhan.

Hingga Maret 2021, ketika aksi teror kembali terjadi di tanah air, setumpuk data dan informasi yang telah saya rangkum dan susun, ternyata masih belum mampu memberi jawaban yang pas bagi pertanyaan diatas.
 

Riset lapangan yang paling komprehensif saya tempuh di sekolah Agama Lukmanul Hakim, Ulu Tiram, Johor Bahru,Malaysia. Lukmanul Hakim adalah tempat pendidikan pelaku teror sekaligus kawah candradimuka semua tokoh Jamaah Islamiyah (JI). Ketika itu, tulisan saya diterbitkan sebagai laporan bersambung yang terbit secara anonim di koran Jawa Pos.

Salah satu kesimpulan saya yang sampai sekarang masih relevan adalah tentang kurang optimalnya sikap negara terhadap pelaku terorisme dari kalangan milenial. Hal ini dipicu personil-personil penyusun kurikulum deradikalisasi dengan pengalaman lapangan yang minim dan kurang melibatkan kalangan pesantren. Pemerintah juga tidak bisa tegas menutup sekolah-sekolah agama dan lumbaga pendidikan Islam yang berafiliasi dengan jaringan terlarang. Akibatnya, tren teroris milenial tak juga berkurang dalam kurun 12 tahun terakhir. 

Yang terbaru, aksi bomber Makasar, suami istri Muhamad Lukman dan Yogi Sahfitri Fortuna pasangan yang baru 7 bulan menikah. Begitupula lone wolf pelaku serangan di mabes polri, Zakiah Aini yang berusia 25 tahun. Ketiga pelaku teror di tahun 2021 ini termasuk berusia milenial. Maka saya memberi nama mereka Jimi kependekan dari Jihadis Milenial. 

Siapa sih Jimi ini? Apa tujuan mereka mati konyol? Baca sampai tuntas tulisan ini… 

Pertama, Lukman dan Yogi Sahfitri adalah bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi ke ISIS, sedangkan Zakiah Aini belum belum terklarifikasi sebagai bagian dari jaringan manapun.Tetapi, sebelum melakukan aksi, Zakiah sempat memposting bendera ISIS di akun Instagramnya. 

Kedua, sebelum tewas dalam aksi, ketiga orang jimi yang mati konyol itu masing-masing menjalani kehidupan normal. Kemiripan mereka ada pada sikap yang mendadak tertutup setelah mengenal kajian Islam kanan, baik dalam proses perkuliahan maupun online. 

Ketiga, kika kita fokus pada usia, maka Lukman, Yogi, dan Zakiah tentu bukan pelaku bom termuda yang pernah beraksi di Indonesia. Sejak 2011 hingga 2020 serentetan pemuda sudah terlibat dalam aksi terorisme. Diantaranya: 

⁃    Feby Yuliananda (Pelajar SMP) merakit Bom Buku Mei 2011 
⁃    Ibnu Aziz Rifai, 20 tahun, Pelajar SMA, perakit bom tabung gas 3 kilogram Agustus 2011
⁃    Pelaku teror Klaten 2010-2011 antara lain: Agung, 20 tahun, lulusan sebuah SMKN di Klaten. Kemudian Arga Wiratama, 18 tahun, pelajar di sebuah SMKN di Klaten; Joko Lelono (19), yang juga pelajar di SMKN Klaten; dan Nugroho Budi Santoso (21). Selanjutnya, Tri Budi Santoso, 20 tahun, kemudian Yuda Anggoro (21) dan Roki Aprisdiyanto (21).
⁃    Mahasiswa UIN Jakarta antara lain: Afham Ramadan, Soni Jayadi, Fajar Firdaus
⁃    Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Solo: Abdul Rohman dan Abdul Rohim
⁃    Pelajar dan mahasiswa pelaku aksi pelemparan granat dan penembakan solo: Farhan, Mukhsin, Bayu Setiono, Firman di Solo 2012
⁃    Pemuda Rabial Muslim Nasution pelaku bom Mapolrestabes Medan 2019

Berdasarkan penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pelaku terorisme saat ini paling banyak berasal dari kalangan anak muda. Menurut data BNPT 11,8 persen pelaku terorisme berumur di bawah 21 tahun. Selanjutnya, sebanyak 47,3 persen pelaku terorisme berumur antara 21-30 tahun. Sedangkan pelaku terorisme berumur antar 31- 40 tahun sebanyak 29,1 persen. Sisanya, sebanyak 11,8 pelaku terorisme berumur di atas 40 tahun.

Sebelum purna tugas, Kapolri Jenderal Idham Aziz mengatakan bahwa polisi telah menangkap 228 orang yang diduga terlibat dalam kegiatan terorisme sepanjang tahun 2020. Sebagian besar diduga berencana melaksanakan aksi terorisme di sejumlah daerah dan telah menjadi anggota kelompok militan.

Idham merinci, 146 kasus masih dalam proses penyidikan, sementara 70 pelaku dalam proses menuju tahapan persidangan. Selain itu, dua orang telah menjalani sidang dan 10 orang telah menjalani hukuman penjara.

Di Makassar, berdasarkan peta yang saya miliki, terdapat 3 tren organisasi besar terorisme yang memiliki personal aktif yang tersebar dan populer.  Mujahidin Indonesia Timur (Jaringan Santoso), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) jaringan Aman Abdurrahman, dan Khatibah Nusantara (Bahrumsyah). Ketiga organisasi itu berafiliasi kepada ISIS. 

Di Jakarta dan Jawa Barat, tempat Zakiah tinggal, organisasi yang paling berpengaruh adalah JAD, Khatibah Al Imam pimpinan Abu Husna, Khatibah Nusantara dan aksi sempalan pimpinan Bahrun Naim. Keempat organisasi itu juga berafilisasi kepada ISIS.

Yang tidak banyak orang tahu, sebenarnya Jamaah Islamiyah (JI) dan ISIS adalah dua kelompok teroris yang saling bertentangan. Keduanya memiliki konsep yang mirip terkait negara Islam (khilafah). Tetapi, secara praktik, penentuan kedudukan khalifah negara Islam sebagai ra’in (penggembala) umat Islam yang diusung JI dan ISIS sangat berbeda dan bertentangan. 

Berdasarkan sisi afiliasi, JI berafiliasi dengan Al-Qaeda, organisasi teroris internasional yang berdiri sejak tahun 1988 dan dipimpin Osama Bin Laden dan kini dilanjutkan Ayman Al-Zawahiri. Sekutu Al-Qaeda di antaranya adalah Taliban, Boko Haram dan Abu Sayyaf. 

Sementara itu, JAD berafiliasi kepada ISIS yang dipimpin Abu Bakar Al-Baghdadi yang mulai ada sejak tahun 2000. 

JI memiliki tim khusus untuk mencari kader menjadi salah satu penyebab JI tidak memiliki pola penyerang tunggal (lone wolf). Sedangkan JAD dominan menggunakan sosial media dalam perekrutan sehingga tercipta lone wolf untuk beraksi di Indonesia. 

Dari segi skill dan kemampuan serangan, kelompok militan JI dilatih di berbagai medan, dari Afghanistan, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Pengalaman tempur di medan-medan perang yang beragam ini membuat aksi-aksi teror JI bukan hanya lebih cermat, melainkan juga memiliki daya rusak yang luar biasa tinggi. 

Pola serangan JAD dan pro ISIS grup cenderung acak. Serangan-serangan mereka, selain masih berskala kecil, dampaknya juga kurang terukur dan lebih cenderung menyasar publikasi sebagai efeknya. 

Pola kaderisasi JI juga lebih ketat. Ketika salah satu pimpinannya tertangkap, maka sel organisasi dihapuskan. Sedangkan, keanggotaan JAD dan pro ISIS grup lebih longgar sehingga bisa keluar masuk dengan relatif mudah. Bahkan banyak di antara mereka yang bertindak sendiri atau dalam kelompok-kelompok kecil. 

Perbedaan lainnya adalah target penyerangan. Bila JI menyasar orang asing, JAD dan pro ISIS grup lebih menargetkan operasinya pada sipil dan polisi. 

Selain itu, JI tidak melibatkan perempuan dan anak-anak dalam aksinya, berbeda dengan JAD dan induknya ISIS yang sering menampilkan perempuan dan anak-anak. 

JAD dan pro SIS grup sangat kuat di sosial media dengan hampir 400.00 situs web yang berafilifasi kepada ISIS, 46.000 akun twitter dalam 5 bahasa, dan pola rekrutmen online dengan pdf berisi ilustrasi serangan dan materi cuci otak yang mudah disebar dalam pesan berantai.

Maka, bisa disimpulkan bahwa yang paling bertanggungjawab terhadap makin banyaknya keterlibatan milenial dalam aksi teror di tanah air adalah ISIS dan organisasi yang berafiliasi terhadap mereka. 

Nah, kenapa negara sulit menebak aksi mereka? Karena faktanya, mayoritas alumni napi teroris dan para konsultan kepolisian selama ini mayoritas adalah alumni JI. Mereka mau membantu pemerintah setelah jaringannya hancur lebur dan kemudian kehabisan akses kepada gerakan trans nasional dan telah menjalani masa tahanan dan atau telah menjalani deradikalisasi. 

Berbeda dengan jaringan pro ISIS grup, hingga saat ini jaringan ISIS masih hidup di berbagai belahan dunia. Banyak yang berasumsi bahwa ISIS adalah jaringan terorisme global yang merupakan permainan intelijen Amerika Serikat dan Israel dalam rangka bagian dari konspirasi global. 

ISIS yang sangat melek media dan memanfaatkan sosial media ini juga memang sulit dibongkar karena mereka bekerja dalam sel-sel terpisah dan acak. Butuh peran serta banyak pihak untuk memberantas jaringan pro ISIS grup. Apalagi, di Indonesia tokohnya banyak menempel dan bersembunyi pada organisasi-organisasi Islam lain yang telah dilarang seperti HTI dan FPI. 

Sebagai bentuk kewaspadaan, berikut saya sertakan nama organisasi yang berafiliasi kepada ISIS di Indonesia: 

Mujahidin Indonesia Barat
Mujahidin Indonesia Timur
Jamaah Ansharut Tauhid
Ring Banten
Jamaah Tauhid Wal Jihad
Forum Aktivis Syariah Islam 
Pendukung dan Pembela Daulah Islam
Gerakan Reformasi Islam
Asybal Tawhid Indonesia
Kongres Umat Islam Bekasi
Jamaah Ansharul Khilafah
Khatibah Al Imam
Umar Islam Nusantara
Ikhwan muwahid indunisy fiw jazirah al muluk
Ansharul Khilafah Jawa Timur
Halawi makmun Group
Gerakan Tauhid Lamongan
Khilafatul Muslimin
Laskar Jundullah
IS Aceh
Ma’had Ansyarullah
Forum Pendukung Daulah Islamiyah
Ansharut Daulah Indonesia
Jamaah Ansharut Daulah (JAD)

Jika anak, kerabat, dan famili anda kemudian terindikasi bagian dari salah satu gerakan diatas, rutin membaca artikel terbitan mereka dan atau menyatakan diri berbaiat kepada salah satu organisasi itu, segera bawa ke pesantren NU terdekat untuk mendapatkan perawatan deradikalisasi lebih lanjut. Jangan sampai mereka keburu tergabung dalam jimi dan kemudian melanjutkan tren mati konyol seperti yang sudah-sudah. Takbir! (*)

 *) Penulis, Zulham Mubarak, Analis Intelijen Ansor Cyber Jatim
Sumber : Times Indonesia


Pewarta :
Editor :
Tags : , , , , ,

Comments: