Ajaran Al Fatihah untuk NU, NKRI dan Pancasila

berita terbaru nu kita
H. Abu Yazid AM, Ketua RMI PCNU Kabupaten Malang.
Kamis, 01 Juni 2017 - 17:59 WIB | Dilihat: 8.86k

NUKITA.ID, MALANG –  

بِسْـــــــــمِ اللَّـه الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ۞
الْحَمْدُ لِلَّـهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ۞ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ۞ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ۞ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ۞ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۞ صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَ لَا الضَّالِّيْنَ ۞

Ada tiga tipe kelompok orang muslim yang diceritakan Allah dalam surah Al Fatihah di atas.

Pertama: orang muslim yang "ad-dloollin" : sesat. Yakni mereka yang mentauhidkan Allah, meyakini kenabian Rasulullah, menjadikan Al-Qur'an sebagai pegangan, mereka sholat pun menghadap Ka'bah. Namun mereka menyelewengkan ajaran Allah dan Rasulullah itu sesuai dengan syahwat politik dan kepentingan. 

Mereka tidak mau menerima hadist Rasul dalam 'Kutubus Sittah' dari Imam Bukhori, Muslim hingga Ibnu Majjah kecuali dari imam imam politik mereka dalam kitab 'Al Kafi' dengan Alasan bahwa ulama selain pemimpin spiritual mereka adalah oranamg fasiq yang tidak layak diterima khobarnya meski berasal dari Rasulullah SAW.

Mereka pun mengkafirkan sahabat Abu Bakar, Umar bin Al Khattab, Ustman bin Affan, Tholhah, Zubair hingga Sayidah Aisyah karena asumsi mereka yang mengaku bahwa beliau beliau adalah orang yang merebut dan melawan otoritas kepemimpinan Sayidina Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin politik yang paling sah bagi umat Islam.

Mereka juga melegalkan penipuan dan kebohongan, bahkan menghalalkan kebencian, fitnah dan permusuhan kepada umat Islam yg tidak sejalan di bawah ajaran "taqiyah" yang hakikatnya hanyalah politik kamuflase agar mereka mampu berkuasa.

Yang termasuk dalam kelompok ini juga adalah mereka yang mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa, nabi Muhammad sebagai Rasul Allah namun juga meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai orang yang sejajar maqomnya dengan Rasulullah. Sehingga ajaran Mirza yang menyeleweng pun patut diamalkan.

Yang kedua; adalah mereka yang disebut 'maghdlubi alaihim', yakni orang Islam yang dibenci dan dimurkai Allah akibat perilaku mereka yang jauh dari moral Islam dan moral ketuhanan yang menjadi tujuan Islam. 

Karena kenyataannya mereka kuat dalam membela dan menjalankan syariat Islam. Namun mereka melakukan itu dengan nafsu dan syahwat mereka dengan samar sehingga justru membuat murka Tuhan. Entah karena kepentingan, motif politik maupun akibat kebodohan akut yang tak terasakan.

Mereka kuat memegang ajaran tauhidullah, namun mereka mengkafirkan orang Islam yang tidak sama pola pikir dan cara bertauhidnya seperti mereka. Sehingga ziarah kubur dianggap syirik, dan memusuhi umat Islam yang tidak se-fikiran dianggap kemuliaan.

Mereka kuat memegang sunnah Rasulullah, namun keagungan akhlak Rasulullah yang menjadi tujuan sunnah justru diabaikan dan dilupakan. Mereka pun berjenggot dan berjidat hitam namun menganggab maulid hingga sedekah melalui selamatan adalah bidah yang menyesatkan, hanya karena alasan tidak ada hadis yang bisa mereka temukan.

Mereka banyak yang hafal Al Qur'an. Bahkan mereka siap mati jika Al-Qur'an dinistakan. Namun kerena terlalu sibuk dengan tekstualitas Al-Qur'an, mereka lupa memahami dan mengamalkan ajaran subtansi Al+Qur'an. 
Al-Qur'an pun hanya mereka letakkan di mulut hingga tenggorokan. Manakala otak dan hati dipenuhi nafsu dan kebencian.

Mereka kuat dalam berjihad, namun mereka menganggap bahwa membunuh, kekerasan, terror dan melanggar hak hak kemanusiaan adalah kemuliaan, akibat hati dan pikiran yang dikuasai nafsu predator untuk berkuasa dan memberangus semua manusia yang tidak se-ide dan se-fikiran.

Mereka paling depan dalam menegakkan syariat khilafah dan panji keIslaman. Namun jasa para pahlawan mereka lupakan, dan perjuangan ulama dari wali songo hingga ulama jaman kemerdekaan mereka nafikan, akibat NKRI dan demokrasi mereka anggap sebagai thoghut dan Pancasila dianggap bukan aturan Tuhan.

Mereka selalu berkowar kowar amar makruf nahi munkar. Namun makar mereka legalkan, kekerasan kepada pelaku maksiat mereka halalkan. Bahkan tak jarang kata 'laknat' dan fitnah mereka anggap surga dan ujaran kebencian dianggap kemuliaan hanya agar tercapai segala kepentingan yang mereka inginkan. Apa begitu Islam dan Rasulullah mengajarkan?

Yang ketiga; adalah orang Islam yang dalam koridor 'shirothol mustaqim' (akhlak agama yang lurus) sehingga mereka termasuk kelompok 'alladzina an'amta alaihim', yakni orang yang mendapatkan nikmat Allah di dunia akhirat. Karakter kelompok terbaik ini adalah ahli syukur atas nikmat yg diberikan dan cinta damai karena qona'ah terhadap segala pemberian.

Mereka bersyukur atas nikmat iman dari Allah melalui wasilah ulama salaf, wali 'songo' hingga kyai kyai mu'tabar. Sehingga mereka gemar mendoakan beliau dengan tawassul dan ziarah kubur untuk 'ngalap' keberkahan.

Mereka bersyukur kepada Rasulullah atas ajaran yang diberikan dan akhlak kesunnahan yang dituntunkan. Sehingga mereka gemar bersolawat melalui lantunan mawalid sebagai pujian dan kesyukuran untuk mengharap syafaat dan pertolongan.

Mereka bersyukur dengan nikmat rizki yang diberikan sehingga mereka gemar bersedekah melalui even selamatan, dari megengan, maleman, lebaran, 'kupatan', 'suroan' (Muharam) hingga 'ruwatan' (haflah); dari 'neloni', 'mitoni', 'tingkepan', 'brokohan' hingga kekahan; dari 7 hari, 40 hari, 100, 1000 hingga pendakan (haul)

Mereka bersyukur​ dengan nikmat 'Indonesia' yang telah diperjuangkan para ulama dan pahlawan dengan ceceran darah dan cucuran keringat jihad. Sehingga untuk menghormati jasa itu, mereka berusaha menjaga NKRI dengan kekayaan Pancasila dan bhineka tunggal Ikanya dengan sebaik baiknya. Bukan malah merobohkan NKRI dan pilar Pancasila dengan alasan demi menegakkan syariah, khilafah maupun alasan beramar makruf nahi munkar.

Inilah manhaj NU, NKRI dan Pancasila dari surah Al Fatihah. Inilah manhaj Islam Nusantara yang harus selalu dijaga.(*)

*Penulis, H. Abu Yazid AM, Ketua RMI PCNU Kabupaten Malang.


Pewarta :
Editor : Yatimul Ainun
Tags : , , ,

Berita Lainnya

Comments: