Mencari Pemimpin di Tengah Pergolakan Radikalisme

berita terbaru nu kita
M Yusuf Azwar Anas, Wakil Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang 2013-2017 serta Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Malang
Minggu, 11 Juni 2017 - 12:03 WIB | Dilihat: 10.51k

NUKITA.ID, MALANGSaya ucapkan selamat dan sukses Konfrensi Cabang Gerakan pemuda Ansor yang ke 14, pada momentum ini yang mengambil tema  Meneguhkan semangat kebangsaan, memperkokoh Ke-indonesia-an. Hal itu suatu tema yang sangat pas ditengah berbagai hantaman dan pergolakan berbagai faham yang mencoba mengoyak bangsa Indonesia, lagi lagi Ansor akan terus berusaha menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI.

Hal ini bukan hal yang baru bagi Ansor, kita coba melihat lagi bagaimana sejarah GP Ansor yang sarat akan perjuangan dalam membela Bangsa, dengan semangat dalil kebangsaan yang di sampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari “ Khubbul Wathon Minal Iman”, lalu apa tantangan kepemimpian GP Ansor kedepan, dan Apa karakter kepemimpinan Ansor yang dibutuhkan untuk menjaga Organisasi, Agama dan Bangsa.

Lahirnya GP Ansor diawali dari mulai muncul dan berkembangnya organisasi kepemudaan yang ada di Indonesia. Dimulai pada tahun 1916 muncul organisasi pemuda Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air) yang didirikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Mas Mansyur, H Abdul Kahar dan soeyoto Suto, organisasi itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam dan pembentukan mubaligh.

Nahdlatul Wathan mendapat tanggapan yang hangat setelah mendapat status badan hukum dari pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada tahun 1918 KH. Abdul Wahab dan Mas Mansyur mendirikan Taswirul Afkar (representasi gagasan-gagasan), organisasi tersebut terbentuk karena adanya diskusi kecil para pendirinya mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan yang ada pada masa itu.

Dengan demikian, dalam waktu 2 tahun mereka berhasil mendirikan organisasi Islam yang pada waktu itu cukup berpengaruh di Surabaya. Hampir sama dengan Nahdlatul Wathan organisasi Taswirul Afkar juga bergerak dibidang yang sama, akan tetapi organisasi ini lebih menekankan pada aspek sosialnya.

Pada tahun 1924 kembali muncul organisasi kepemudaan yang diberi nama Syubhanul Wathan (pemuda tanah air), organisasi tersebut muncul karena adanya ide dari para pendiri Nahdlatul Wathan dan Taswirul Afkar untuk menyatukan pemuda dari dua organisasi tersebut menjadi satu wadah.

Akan tetapi pada waktu itu terjadi perbedaan pendapat antara KH Mas Mansyur dan KH. Wahab yang mengakibatkan keluarnya Mas Mansyur dan masuk Muhammadiyah.

Akhirnya pada tahun 1931 Abdullah Ubaid menghimbau kepada seluruh pemuda binaannya agar mereka menyatu dalam satu wadah dan barisan yaitu pemuda NU (Nahdlatul Ulama), ternyata himbauan tersebut mendapat tanggapan positif dan akhirnya lahirlah Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU) yang dinyatakan sebagai jam‟iyah NU dan diketuai oleh Abdullah Ubaid.

Kelahiran Gerakan Pemuda (GP) Ansor diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan kepahlawanan, dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca sumpah pemuda. Semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan.

Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, barisan kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda. Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan penumpasan G 30 S/PKI, peran Ansor sangat menonjol, dan sebelumnya juga aksi heroik laskar Hibullah dalam pertempuran 10 November di Surabaya.

Sejarah panjang GP Ansor sarat akan pengalaman, terutama pada mengawal nilai nilai kebangsaan. Berdirinya Gerakan Pemuda Ansor tak lain dari respon keberagamaan, politik kenegaraan dan juga sosial budaya pada waktu itu, selain itu telah lahirnya Induk organisasi Nahdlatul Ulama.

Saat ini, organisasi terbesar di Indonesia (GP.Ansor) mendapatkan tantangan yang begitu sengit terhadap pegolakan paham-paham radikal yang mencoba menganggu stabilitas bangsa.

Keberagaman yang terbingkai dengan Bheneka Tunggal Ika terusik oleh berbagai aksi radikalisme yang mencoba mengusur dan mengusik kedamaian bangsa.

Radikalisme, terorisme dan penyebaran khilafah menjadi fenomena bagian focus dari lini perjuangan GP Ansor. Fenomena-fenomena yang terjadi seperti keinginan adanya perubahan terhadap tatanan negara sesuai pemikiran penganut paham Radikal itu dapat menyebabkan suatu konflik, dikarenakan adanya perbedaan persepsi atau pemahaman terhadap nilai-nilai agama.

Penyebutan radikal terhadap kelompok yang memiliki karakter dan pola pikir umum sebagai suatu gerakan yang menginginkan ditegakkannya syari’at Islam secara terminologi memiliki tiga ciri-ciri karakteristik sebagaimana disebutkan oleh Horace M Kallen adalah Pertama Radikalisasi muncul sebagai respon yang berupa evaluasi, penolakan, dan perlawanan terhadap suatu kondisi yang sedang berlangsung, biasanya masalah-masalah yang ditolak itu berupa asumsi, ide, lembaga, bahkan tatanan negara yang dianggap tidak sesuai dengan pemikiran Islam radikal.

Kedua Radikalisasi selalu berupaya menggantikan tatanan yang sudah ada dengan sebuah tatanan baru menurut pandangan dan pemikiran mereka sendiri. Para penganut Islam radikal sendiri biasanya selalu berusaha agar tatanan yang sudah ada bisa digantikan oleh tatanan yang sesuai dengan pemikiran mereka.

Ketiga Kuatnya keyakinan akan ideologi yang mereka tawarkan, hal tersebut mengakibatkan munculnya sifat emosional yang mengakibatkan kekerasan.

Munculnya gerakan radikalisme yang diplopori oleh ISIS, terorisme dengan berbagai aksi bom bunuh diri dan berbagai letusan Bom diberbagai daerah dan upaya menganti ideology bangsa menjadi tantangan Gerakan Pemuda Ansor. Sampai saat ini dakwah tentang pelaksanaan Islam secara kaffah atau yang terkenal dengan istilah fundamental masih berlangsung.

Bahkan proses dakwahnya diusung masing-masing organisasi yang berbeda, misalnya seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Majelis Tafsir alQur’an (MTA), ISIS dan beberapa Ormas (organisasi masyarakat) Islam lain yang memiliki paham radikal.

Selogan NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya, Aswaja Akidah kita, menjadi selogan yang selalu bergemuruh setiap kegiatan terlebih dalam masa Pendidikan dan Pelatihan pengkaderan GP Ansor sebagai upaya untuk membangun dan menjaga nasonalisme para kader. Ribuan kader GP Ansor telah dihasilkan dalam empat tahun terakhir, secara kuantitas begitu fantastis, dan belum pernah dihasilkan oleh ormas-ormas lain khususnya di Kabupaten Malang.

Namun secara kualitas perlu pembenahan dan upaya khusus, terutama menjadi pekerjaan organisasi bagi kepemimpinan GP Ansor selanjutnya.

Melihat dan memperhatikan fenomena tersebut empat tahun kedepan atau diperiode selanjutnya dibutuhkan pemimpin GP Ansor yang mempunyai karakter kepemimpinan yang mampu mengerakkan dan menjaga kewibawaan organisasi yang sangat kental pada gerakan dakwah keislaman.

Hal tersebut bisa dilakukan bagi pemimpin yang mempunyai ketulusan dan kecintaan untuk berkhidmat pada organisasi gerakan, calon pemimpina yang dalam prosesnya bersih dari niat-niat jahat apalagi mengadaikan organisasi.

Pimpinan Cabang GP.Ansor Kabupaten Malang memasuki moment kritis, dimana proses pergantian kepemimpinan akan berlangsung dalam Konferensi Cabang ke 14 yang berlangsung di Hall KH Moh Said Universitas Islam Raden Rahmat Malang (UNIRA). 

Mengapa menjadi momen kritis karena moment tersebut merupakan pertaruhan 4 tahun kedepan PC GP Ansor kabupaten Malang untuk terus konsisten dalam menjaga nilai-nilai perjuangan terutama menjadi pilar ulama dalam mejaga akidah Ahlussunah waljamaah, tentunya dibutuhkan pemimpin yang kuat didalam pemahaman akidah, faham dalam keberagamaan dan kuat dalam sosial kemasyarakatan, dan menjauhkan intervensi politik yang menurunkan marwah organisasi.

Disamping nilai-nilai keislaman Ahlussunah waljamaah dan ke-NU-an yang menadi fondasi dasar dalam pemimpin organisasi social kemasyarakatan seperti Ansor, namun, ada 3 hal dalam Teori Globe Project (2011) yang perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin dalam memimpin sebuah organisasi.

Ketiga hal tersebut adalah Pertama Operational Ledership (kepemimpinan Operasional) yaitu kepemimpinan yang mengharuskan seorang pemimpin untuk mempunyai keterampilan secara administrasi dalam menjalankan organisasi, tertib dan taat pada asas organisasi.

Organisasi Ansor telah mempunyai pedoman dan panduan dalam menjalankan organisasi, namun tak jarang dalam implementasinya tata kerja sering diabaikan. Karakter kepemimpinan yang mempunyai kemampuan operasional dibutuhkan untuk membawa organisasi yang baik dan benar, organisasi yang mencerdaskan para anggotanya.

Sehingga Wajar jika organisasi membutuhkan knowledge management, melalui konsep knowledge management-lah organisasi berusaha memperkuat organisational knowledge demi keberlangsungan organisasi.

Inti dari knowledge management adalah proses yang berkesinambungan dari penciptaan, penyebaran, dan penggunaan ilmu pengetahuan yang dimiliki para individu dalam organisasi (Newman, 1991) Kedua Organizational Ledership (Kepemimpinan Organisasi), karakter ini mengisyaratkan bahwa pemimpin mampu mengerakkan organisasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Suksesi kepemimpian menjadi perhatian serius dalam organisasi berbagai upaya dilakukan untuk memformat kepemimpinan ideal, tak jarang kepentingan-kepentingan tertentu masuk mewarnai suksesi itu, namun setelah struktur organisasi dengan berbagai posisi dan jabatan terbentukan sedikit sekali yang mau melaksanakan tugas, sedikit sekali yang mempunyai kesungguhan kesadaran berkhidmad pada organisasi, nyaris sang ketua seperti nahkoda tanpa awak.

Kondisi seperti itu, dibutuhkan kepiawaian pemimpina (Baca: ketua) dalam membangun organisasi dengan melibatkan semua elemen orgaisasi. Pemimpina tak pernah lelah dalam mengontrol, mengevaluasi dan mengkomunikasikan setiap gagasan dan program pada pimpinan-pimpinan yang lain.

Ketiga, Public Leadership (Kepemimpinan Publik) mengkomunikasikan ide dan gagasan pada public disampiang kemampuan untuk merespon setiap perubahan-perubahan lingkungan ekternal yang begitu dinamis, terutama berbagai isu dan fenomena tentang gerakan radikal yang menjadi konsentrasi perhatian dari organisasi GP Ansor yang harus disikapi oleh pemimpin dengan bijak dan cerdas agar GP Ansor mampu memberikan solusi terbaik bagi bangsa.

Organisasi Ansor membutuhkan pemimpin yang mempunyai karakter Public Leadership karena sebagai organisasi social kemasyarakatan, bersinggungan dengan berbagai kebijakan public baik itu menyikapi persoalan politik, ekonomi dan juga social budaya.

Selain itu, ada kebanggaan dalam diri anggota manakala pemimpin itu mampu tampil diberbagai even publik  yang merepresentasikan organisasi, sehingga harga diri organisasipun akan terangkat.(*)


*Penulis, M Yusuf Azwar Anas, Wakil Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang 2013-2017 serta Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Malang


Pewarta :
Editor : Yatimul Ainun
Tags : , , , , ,

Berita Lainnya

Comments: